Kamis, 18 Juni 2009

MUSIK POPULAR


Musik pop adalah genre musik yang dilengkapi dengan elemen noticable berirama, melodies dan hook, gaya yang utama dan struktur konvensional.


Istilah "musik pop" pertama kali digunakan pada 1926 dalam arti "yang populer banding" (lihat populer musik), tetapi sejak tahun 1950-an ia sering digunakan untuk menunjuk seorang colloquially pura terpisah genre musik, kadang-kadang dianggap sebagai "ringan "alternatif lain bentuk musik populer seperti rock and roll.


Standar format musik pop adalah lagu, customarily kurang dari lima menit lamanya, dengan instrumentasi yang dapat berkisar dari sebuah orkestra ke singer sendirian. Lagu pop pada umumnya ditandai dengan yang konsisten dan nyata berirama elemen, sebuah mainan tradisional gaya dan struktur. Varian langka adalah ayat-chorus formulir dan tiga puluh dua bentuk bar, dengan fokus pada melodies dan catchy hook, dan chorus yang kontras melodically, rhythmically dan harmonically dengan ayat.

Musik Pop dan Tragedi Membius Massa

SEORANG pengamat musik dunia, Kristine Mc. Kenna menyatakan, bahasa musik adalah bahasa "purba" yang menyatukan semua umat manusia dan tidak punya dinding pembatas. Bahasa purba itu adalah "bunyi". Dalam era globalisasi ini, jargon itu tidak berubah maknanya, manusia dihibur dan "dibius" bunyi tersebut. Tak heran pertunjukan-pertunjukan musik pop di Barat selalu full house disertai histeris audiens. Indonesia pun terkena getahnya, tidak bisa dipungkiri lagi musik dan lagu dari grup band Ungu yang pernah menelan korban di Pekalongan beberapa waktu lalu, telah membius para penggemarnya. 

Inilah pengaruh dahsyat musik pop itu bagi yang sudah kecanduan.

Musik yang diusung kelompok Ungu adalah pop, musik yang sudah lama dikenal sebagai jenis musik yang sederhana melodinya, namun justru di situlah kekuatannya. 

Dalam lirik-lirik, musik pop mudah dicerna pendengar, apa yang dicuatkan para penulis lagu dan vokalis pop adalah sesuatu yang langsung dapat dinikmati, yaitu hal ihwal cinta, bahkan beraroma religius, seperti yang disenandungkan kelompok Ungu itu. Karena kesederhanaan accord-accord serta lirik-liriknya itu, tak heran kalau band-band pop akan selalu mengundang jubelan penonton pada setiap pergelarannya.

***

SEJARAH panjang musik pop di tanah air ternyata sempat dinodai "tumpahan darah" para ABG dan linangan air mata orang tua korban dari sebuah pertunjukan musik. Kita tentu tahu, tragedi ini jarang terjadi di negara Barat, yang nota bene tempat lahirnya musik pop. Sementara berbagai tragedi terjadi pada pergelaran musik pop di tanah air, lebih-lebih ketika band Ungu tampil di Pekalongan yang menelan korban tewas sampai 10 orang. Ini adalah "rekor tertinggi" dalam jumlah korban yang meninggal dunia, pada sebuah pertunjukan musik pop Indonesia maupun dunia.

Tentu saja musik pop itu sendiri tidak bisa dipersalahkan, tapi tudingan mau tak mau terarah kepada para event organizer (EO) .

Sudah tiba saatnya diselenggarakan semacam pembinaan bagi para EO dengan fokus pada pemahaman dan kecakapan mengelola penjualan tiket yang disesuaikan dengan kondisi/kapasitas gedung pertunjukan. EO harus memperhitungkan dengan cermat arus masuk dan arus keluar audiens, juga harus memahami filosofi musik pop yang bisa membius massanya. 

Saat mengurus perizinan, para EO pun harus mencantumkan dalam perizinannya jenis musik apa yang akan dipertunjukan. Sebab, sudah terbukti berkali-kali setiap pergelaran musik pop selalu dibanjiri penonton. Begitu pun para manajer band-band pop sudah tiba saatnya menyertakan syarat kepada EO, bahwa gedung tempat diselenggarakan pergelaran band asuhannya harus memenuhi standar keamanan dan kenyamanan bagi para penonton. 

Keengganan menyelenggarakan pembinaan ini, jangan-jangan hanya akan memperburuk citra pergelaran musik pop di Indonesia di mata dunia. Akibatnya, band-band kondang dari luar negeri akan berpikir seribu kali ketika mendapat undangan main di sini. Pop adalah musik yang menghibur dan membius, adalah realitas yang tak terbantahkan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar